Pembaruan berita · 17 September 2026 · 19:00 WITA. Bongkasa Pertiwi di Badung berhasil masuk 15 besar nasional Indonesia dalam program Desa Cinta Statistik 2026, dengan sistem pengelolaan sampah digital GAZW sebagai inti dari pengajuan desa tersebut.

Sebuah aplikasi pengelolaan sampah desa telah menempatkan Bongkasa Pertiwi dalam daftar pendek data nasional. Desa Abiansemal ini adalah salah satu dari 15 finalis yang dipilih dari 598 desa yang berpartisipasi dalam program Desa Cinta Statistik Indonesia — yang biasanya disingkat menjadi Desa Cantik. Entri mereka menghubungkan statistik desa yang lebih baik dengan masalah khas Bali: memilah, mencatat, dan mengelola sampah rumah tangga lebih dekat dengan tempat sampah tersebut dihasilkan.

Versi singkatnya Bongkasa Pertiwi telah mencapai peringkat 15 besar nasional, namun belum memenangkan kompetisi. Sistem GAZW — Garbage Application Zero-Waste — yang mereka terapkan mendigitalisasi catatan untuk TPS3R Abirupa Pertiwi dan memberikan dasar bukti yang lebih kuat bagi desa tersebut untuk layanan pengelolaan sampah. Evaluasi daring diadakan pada tanggal 7 September untuk memilih tiga besar nasional; belum ada hasil akhir tiga besar yang terverifikasi yang diumumkan saat pembaruan ini diterbitkan.

01 Apa yang terjadi

Kabupaten Badung mengumumkan pada tanggal 17 September bahwa Bongkasa Pertiwi, di Abiansemal, mewakili Bali di tingkat nasional setelah masuk 15 besar dalam program Desa Cantik. Desa tersebut menyatakan bahwa mereka berada di peringkat kesembilan dari 15 finalis setelah tahap administratif, meskipun peringkat tersebut tidak boleh dianggap sebagai hasil akhir kompetisi.

Proyek nasional ini dimulai dengan 598 desa yang berpartisipasi. Bongkasa Pertiwi kemudian menjalani evaluasi daring pada 7 September 2026 dari Pusat Komando kantor desa, di mana para penilai meninjau praktik data, menyaksikan presentasi profil desa, dan mengevaluasi sistem dari jarak jauh.

Target selanjutnya adalah tiga besar nasional. Laporan resmi Badung menyatakan bahwa evaluasi daring digunakan untuk memilih para finalis tersebut, jadi peringatan pentingnya sederhana: Bongkasa Pertiwi dipastikan masuk 15 besar; finis di tiga besar belum dipastikan.

02 Apa yang sebenarnya dilakukan GAZW

GAZW adalah singkatan dari Garbage Application Zero-Waste (Aplikasi Sampah Tanpa Limbah). GAZW dikembangkan di sekitar TPS3R Abirupa Pertiwi, fasilitas pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah skala komunitas di desa tersebut. Idenya adalah untuk mengalihkan pencatatan layanan sampah dari proses yang sebagian besar manual ke sistem digital yang dapat dihitung, diperiksa, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.

Dasbor publik GAZW saat ini menunjukkan betapa praktisnya ide tersebut. Warga dapat melihat jadwal pengumpulan berdasarkan banjar, lokasi layanan, status pengambilan, peta, dan indikator sampah. Dasbor ini juga menyajikan statistik operasional dari TPS3R, alih-alih memperlakukan "data" sebagai latihan administrasi terpisah.

Itulah kaitan antara program statistik dan pengumpulan sampah: jika sebuah desa dapat mencatat apa yang dikumpulkan, kapan dikumpulkan, dan apakah sampah telah dipilah, desa tersebut memiliki dasar yang lebih baik untuk mengubah rute, memeriksa partisipasi, dan menunjukkan apakah kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber berhasil.

03 Mengapa kompetisi statistik dikaitkan dengan limbah

Desa Cantik adalah program BPS yang dirancang untuk memperkuat literasi statistik dan penggunaan data di tingkat desa. BPS Bali menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan desa dalam mengelola dan menggunakan statistik sebagai dasar pembangunan yang lebih terarah, dengan data yang lebih baik untuk mendukung tata kelola lokal yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Bagi Bongkasa Pertiwi, pengelolaan sampah menjadi studi kasus di dunia nyata. Kepala desa I Nyoman Buda mengatakan ide GAZW muncul ketika Bali gencar mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber pada tahun 2025. Apa yang dimulai sebagai pencatatan manual kemudian dikembangkan menjadi pencatatan digital dengan bimbingan dari BPS Badung.

Hal itu membuat proyek ini lebih menarik daripada sekadar label "desa pintar" yang umum. Proyek ini menghubungkan layanan lingkungan yang terlihat — pengumpulan sampah — dengan alur kerja data yang berulang: mengumpulkan informasi, memprosesnya, menyajikannya, dan kemudian mempublikasikan hasil yang bermanfaat melalui sistem web desa tersebut.

04 Bagaimana Bongkasa Pertiwi sampai di sini

Kegiatan Desa Cantik di desa tersebut dimulai pada tahun 2025 ketika meminta bimbingan dari BPS Kabupaten Badung mengenai penerapan statistik di tingkat desa. Pada tahun 2026, BPS melanjutkan pembangunan kapasitas formal di Bongkasa Pertiwi, termasuk pekerjaan tentang manajemen dan penggunaan data.

Laporan terbaru Badung menyebutkan bahwa desa tersebut secara resmi dinyatakan sebagai Desa Cantik pada 3 Januari 2026. Dari situ, staf mengerjakan seluruh siklus data: pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan pengunggahan informasi ke dalam sistem web desa.

Bongkasa Pertiwi juga merupakan salah satu dari tiga desa di Badung yang secara resmi masuk dalam program Desa Cantik tahun 2026, selain Gulingan dan Pererenan. Pada bulan September, peserta Bongkasa Pertiwi telah maju ke evaluasi online nasional.

05 Mengapa ini penting di luar sebuah penghargaan

Bagi warga, pertanyaan yang bermanfaat bukanlah apakah desa tersebut mendapatkan piala. Melainkan apakah data tersebut membuat layanan lebih mudah dipahami dan ditingkatkan. Sistem pengelolaan sampah yang dapat menunjukkan jadwal, progres pengambilan sampah, dan indikator operasional memberikan visibilitas yang lebih baik bagi warga dan pengelola dibandingkan catatan tulisan tangan yang tersimpan di kantor.

Hal ini juga menciptakan model yang dapat dipelajari oleh komunitas Bali lainnya. Sebuah desa tetangga telah menerbitkan permintaan kunjungan studi terkait replikasi sistem GAZW, menunjukkan bahwa proyek ini menarik minat di luar Bongkasa Pertiwi itu sendiri.

Masih banyak yang perlu dibuktikan dari waktu ke waktu: catatan digital tidak secara otomatis menyelesaikan masalah sampah, dan hasil kompetisi bukanlah hal yang sama dengan kinerja lingkungan jangka panjang. Namun, proyek ini merupakan contoh konkret bagaimana sebuah desa di Bali dapat menggabungkan pengumpulan sampah komunitas, pemilahan sampah di sumbernya, dan data lokal dalam satu sistem operasi daripada memperlakukannya sebagai program yang terpisah.

06 Apa yang terjadi selanjutnya

Pencapaian penting saat ini adalah hasil seleksi tiga besar nasional setelah evaluasi daring pada 7 September. Laporan Badung tanggal 17 September tidak mengumumkan hasil tersebut, dan Totally Bali tidak akan menganggap Bongkasa Pertiwi sebagai pemenang tiga besar nasional kecuali jika hal itu dikonfirmasi oleh BPS atau sumber otoritatif lainnya.

Sementara itu, dasbor GAZW tetap aktif sebagai layanan yang ditujukan untuk warga, dan posisi desa di peringkat 15 besar sudah dikonfirmasi. Kombinasi tersebut — masuk daftar nominasi nasional ditambah sistem publik yang berfungsi — adalah alasan mengapa ini layak diperhatikan sebagai kisah lokal Bali, bukan sekadar pengumuman penghargaan.

07 Sumber